Trend

Generasi Mapan Paling Sering Pakai Teknologi Pencarian Properti

Administrator | Jumat, 04 November 2022 - 10:15:08 WIB | dibaca: 83 pembaca

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Merujuk kepada preferensi demografi, saat ini yang tertarik mencari properti secara online bukan hanya generasi milenial dan Generasi Z saja namun juga generasi yang lebih mapan. Demikian diungkap riset Lamudi. Co.id, sebuah perusahaan property technology (proptech) di Indonesia.

Chief Executive Officer (CEO) Lamudi, Mart Polman mengung-kapkan pencarian informasi properti dari segmen milenial dan generasi Z dalam klasifikasi umur 25-34 tahun terus mengalami pertumbuhan bahkan naik hingga 100 kali lipat dari awal Lamudi berdiri pada 2014. 

Namun yang menarik, dalam tiga tahun belakangan atau dari 2018 sampai 2021, pengguna yang berusia 45-54 tahun juga mengalami kenaikan hingga 250 persen. Ini menunjukan bahwa pengguna teknologi pencarian properti online semakin memikat pencari properti lintas generasi termasuk generasi mapan. 

“Penjualan properti lewat daring memang memiliki berbagai keuntungan dari segi kemudahan dan fleksibilitas. Dimana calon pembeli dapat dengan leluasa memilih jenis dan karakter properti pilihan mereka serta membandingkan harganya, serta melihat promo atau penawaran yang diberikan pengembang,” ungkap Mart Polman dalam konferensi pers “Lamudi Property Fair” secara hybrid pada Rabu (8/6/2022). 

Meski begitu, dalam membeli properti calon konsumen tentu tidak akan mudah menyepakati suatu transaksi karena ini adalah investasi dengan nilai cukup besar. Oleh karena itu, proses penjualan properti online tetap harus dibarengi dengan pertemuan secara offline. 

“Transparansi informasi mengenai penawaran proyek properti tertentu menjadi penting serta memfasilitasi komunikasi antara pe-ngembang dan calon pembeli properti,” ujarnya. 

Terkait kecenderungan properti yang dicari calon pembeli rumah usia 45-54 tahun tadi, Vice President of Corporate Sales Lamudi, Michael Ignetius Kauw mengatakan umumnya mereka mencari rumah tapak atau landed house. 

“Ini jenis properti yang paling banyak dicari di hampir semua kategori usia,” jelasnya. 

Soal harga properti, sebagian besar calon pembeli mencari pro-perti dengan nilai Rp300 juta sampai Rp1 miliar. Harga di kisaran terse-but dianggap relatif terjangkau dan sebagian besar pencari properti adalah mereka yang baru pertama kali membeli rumah. 

“Meski ada juga anak muda yang mencari rumah tapak dengan ukuran besar untuk dihuni bersama keluarga besarnya seperti istri, anak, dan orang tua,” papar Michael. 
Dari sisi lokasi, biasanya pencari properti membidik wilayah Bogor, Tangerang, dan Bekasi. 

Setelah mengakuisisi OLX Properti pada awal Januari 2022, Lamudi saat ini menghadirkan beragam opsi dan fitur properti terlengkap di Indonesia dengan pilihan lebih dari 1 juta properti setiap bulannya serta dengan 400 lebih mitra developer ternama. Lamudi kini juga telah bermitra dengan lebih dari 15 ribu jaringan agen properti yang siap membantu calon pembeli properti. 

“Kami juga selalu berupaya memberikan jasa konsultasi terpercaya dalam strategi pemasaran untuk memastikan bahwa segala upaya penjualan mitra developer kami tepat sasaran,” ungkap Michael.
  
Besarnya peran teknologi informasi pro-perti online terhadap penjualan properti diakui VP Sales & Marketing Paramount Petals, Mario Susanto. Di acara yang sama dia mengatakan bahwa dua cluster awal Paramount Petals, sumber penjualan mayo-ritas berasal dari online. 

“Kami tracking, hampir 65% sumbernya berasal dari online. Cukup besar secara ang-ka,” jelas Mario. 

Meski penjualan secara online punya potensi besar, kata Mario, namun tetap harus diimbangi dengan pengalaman yang baik secara offline. Seperti memberikan pengalaman langsung kepada konsumen yang ingin melihat wujud asli properti yang diminati. “Source-nya mungkin online, namun saat transaksi tetap harus datang ke site, melihat dulu, diyakinkan, hingga akhirnya deal,” ujar Mario. 

Literasi Finansial 
Lamudi menyebutkan bahwa tingkat disetujuinya pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih rendah yakni berkisar rata-rata 19,80 persen dalam periode Januari-Maret 2022. Hal ini menunjukan masih perlunya pelaku usaha properti mengedukasi para calon pembeli secara lebih intens dengan literasi finansial mema-dai terutama sebelum melakukan proses pengajuan KPR pada bank. 

Di sisi lain, pemerintah juga sedang gencar mengalokasikan dana Fasilitas Likuidi-tas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sebesar Rp23 triliun untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) membeli rumah melalui penyaluran KPR bersubsisi melalui beberapa bank penyalur. Oleh karena itu, dibutuhkan sinergi pemerintah dengan seluruh pelaku usaha properti. 

“Pemerintah dan pelaku di sektor pro-perti seperti pengembang, agen properti serta perbankan perlu lebih mengedukasi masyarakat dengan literasi finansial memadai sehingga mereka lebih paham mengenai kondisi finansial mereka masing-masing,” ujar Mart Polman. 

Menurutnya, pemegang kepentingan sektor properti harus lebih mempertimbang-kan penyampaian informasi mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan secara finansial sebelum pengajuan KPR lewat bank kepada seluruh calon pembeli properti. Artinya, kata Mart, pengembang dan agen properti harus lebih siap memainkan peran proaktif dalam bagian edukasi publik. 

Literasi finansial yang dimaksud antara lain berupa penentuan budget mengenai rumah yang ingin dibeli, pengetahuan me-ngenai uang muka minimal dan tenor KPR, pelunasan terhadap semua cicilan kredit yang masih tertunggak, pengetahuan tentang manajemen keuangan dan pengetahuan mengenai pentingnya asuransi properti.
 
“Itu semua harus berhasil dikomunikasi-kan melalui jasa konsultasi tepercaya, disini pengembang dan agen harus beradaptasi dengan tuntutan pasar baru dimana keterse-diaan informasi memadai memiliki korelasi langsung terhadap pemasaran properti,” pungkas Mart Polman. (Rinaldi)


Sumber: