SEPUTAR DAERAH

Geliat Hunian Vertikal di Batam Butuh Dukungan Regulasi Jelas

Administrator | Senin, 20 Januari 2020 - 16:04:55 WIB | dibaca: 168 pembaca

Foto: Istimewa

Ketua DPD REI Khusus Batam, Achyar Arfan mengatakan salah satu isu yang dibahas adalah mengenai tren pembangunan hunian vertikal (high rise building) yang dalam tiga tahun terakhir cukup marak dikembangkan di pulau tersebut. Hal itu sekaligus menunjukkan kesiapan Batam dari kota industri menjadi salah satu kota metropolitan di Indonesia.

“Dalam tiga tahun terakhir kita bisa lihat perkembangan pembangunan hunian vertikal di Batam. Ini semua membutuhkan dukungan stakeholder terutama dalam mendukung proses perizinannya,” ungkap Achyar kepada wartawan, usai pembukaan Rakerda REI Khusus Batam, baru-baru ini.

Dia menambahkan, saat ini sedikitnya ada 16 proyek high rise building yang sedang dikembangkan di Batam. Sebagian besar merupakan besutan pengembang nasional dan asing seperti Ciputra Group, Agung Podomoro Land, Sinarmas Land, Pollux International dan Oxley Group. Selain pengembang lokal Batam seperti Aston Residence dan Nagoya Thamrin City. Proyek-proyek tersebut kini menjadi salah satu tolak ukur bagi pengembang Batam.

“Gencarnya pembangunan apartemen tentu menjadi satu bukti potensi pasar apartemen di Batam cukup besar. Memang tetap ada kekhawatiran kalau ada (proyek) yang macet pembangunannya dan akan berdampak pada pasar properti secara keseluruhan di Batam. Jadi pengembang yang lain masih ngintip-ngintip dulu, kalau yang lain sukses pasti banyak yang mengikuti,” ujar Achyar.

REI Batam sendiri dengan dukungan Badan Pendidikan dan Latihan (Diklat) DPP REI sudah melakukan pendampingan untuk menambah wawasan pengembang di Batam terhadap pengembangan proyek high rise building. Demikian juga melakukan koordinasi dan konsultasi dengan perbankan menyangkut kredit modal kerjanya.

Diakui Achyar, daya beli masyarakat yang menurun masih menjadi kendala dalam pengembangan hunian vertikal di Batam. Kondisi itu patut diantisipasi pengembang apartemen, mengingat biaya konstruksi akan tetap berjalan meski penjualan masih di bawah target. Untuk itu, REI Batam berharap perekonomian di daerah industri tersebut dapat lebih baik di masa mendatang.

Adapun segmen pasar yang diincar oleh pengembang apartemen di Batam adalah investor dari berbagai kota yang membeli berdasarkan database pengembang nasional, kedua orang lokal Batam yang masih gemar berinvestasi properti, serta terakhir investasi warga asing.

“Yang terakhir ini kabarnya sudah ada yang membeli di Nongsa Bay dan proyek Ciputra, tapi baru pesan. Ini tentu kami harapkan bisa dilanjutkan ke AJB tanpa masalah. Aturan properti asing yang ada sekarang sebenarnya sudah jelas, namun memang tidak friendly,” ungkap dia.

Misalnya kalau di negara lain seperti Malaysia, orang asing bawa duit untuk membeli rumah di sana, langsung ditanyai mau izin tinggal enggak? Tetapi kalau di Indonesia justru terbalik, warga asing yang mau membeli rumah di sini justru ditanyai dulu mana izin tinggalnya. Kondisi itu, kata Achyar, menjadikan minat warga asing untuk membeli rumah di Indonesia berkurang.

Rumah Rakyat
Sementara itu, terkait rencana pengembangan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di Batam, Achyar menyebutkan dengan adanya 2.000 hektar lahan yang dialokasikan sebagai lahan Kavling Siap Bangun (KSB) lebih dari cukup untuk menata permukiman masyarakat menjadi lebih baik. Saat ini baru sekitar 50% KSB yang dibangun, atau masih tersisa 1.000 hektar yang siap dibangun.

“Sementara itu masih terdapat 50 ribu Kepala Keluarga (KK) yang masih tinggal di rumah-rumah liar. Nah, kalau Pemerintah Kota (Pemko) Batam, BP Batam dan REI bisa bekerjasama, tentu kita mampu ciptakan lingkungan yang jauh lebih baik,” papar dia.

Tahun 2017, REI Batam hanya dapat membangun sekitar 800 unit, 2018 sekitar 1.200 unit, dan tahun ini ditargetkan sebanyak 1.500 unit.

Asisten Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) bidang Perekonomian, Syamsul Bahrum mengatakan Kota Batam sebenarnya mempunyai dua kekuatan besar yaitu Pemkot Batam dan BP Batam sehingga pembangunan kota bisa dapat dipacu lebih cepat. Namun memang harus ada penyelarasan kebijakan dan juga anggaran.

“Batam ini harus masuk dalam Kota Metropolis Bandar Dunia Madani. Setapak sepijak dengan apa yang dibuat oleh Pemerintah Kota Batam,” ungkap Syamsul Bahrum yang membuka Rakerda REI Khusus Batam mewakili Plt Gubernur Kepri, Isdianto. (Rinaldi)