TOPIK KHUSUS

Fase Endemi di Depan Mata, Sektor Properti Pulih

Administrator | Rabu, 21 September 2022 - 10:05:07 WIB | dibaca: 57 pembaca

Ilustrasi (foto: Sandiyu Nuryono)

Pandemi covid-19 di indonesia yang semakin melandai dan terkendali memacu semangat para pelaku industri di sejumlah sektor bisnis, tak terkecuali di industri properti. Di sisi l ain, data investasi dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) juga membawa optimisme bahwa sektor properti akan segera bangkit.

Disebutkan, capaian realisasi investasi di Indonesia pada triwulan I-2022 tercatat sebesar Rp282,4 triliun atau meningkat 28,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara dibandingkan triwulan IV-2021, realisasi tersebut meningkat 16,9%.

Menariknya, sektor perumahan, kawasan industri dan perkantoran justru masuk dalam lima besar realisasi investasi di triwulan I-2022 berdasarkan sektor usaha dengan kontribusi investasi hampir 10%.

Adapun lima besar realisasi investasi (PMDN & PMA) berturut-turut adalah sektor Industri Logam Dasar, Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya (Rp39,7 triliun/14,0%); sektor Transportasi, Gudang dan Telekomunikasi (Rp39,5 triliun/14,0%); sektor Pertambangan (Rp35,2 triliun/ 12,5%); sektor Perumahan, Kawasan Industri dan Perkantoran (Rp24,9 triliun/8,8%); serta sektorn Listrik, Gas dan Air (Rp23,1 triliun/8,2 %).

Ketua Badan Pertimbangan Organisasi (BPO) DPP Realestat Indonesia (REI), Soelaeman Soemawinata menilai saat ini industri properti memang mulai menampakkan tanda-tanda kebangkitannya. Meski diakui ibarat orang sakit, kondisinya belum sepenuhnya sembuh. Namun arah pemulihan semakin nyata.

“Industri properti itu mencapai puncak di tahun 2015, kemudian turun di 2016 sampai 2018. Nah, di 2019 sebenarnya menampakan optimisme kalau properti akan bangkit kembali, tetapi tiba-tiba ada pandemi di awal 2020,”ujar Eman, demikian dia akrab disapa kepada wartawan, baru-baru ini.

Menurutnya, pandemi telah meruntuhkan banyak rencana para developer, sehingga pengusaha properti dituntut harus berjuang keras untuk bisa bertahan selama 2020-2021 kemarin. Sedangkan di 2022, Eman mendapatkan tanda-tanda kebangkitan kembali industri properti semakin jelas.

“Sudah menampakkan kesembuhan dan pemulihan, tapi juga belum sembuh benar, karena luka-luka dari sejak 2016 masih banyak sekali dan teman-teman butuh waktu untuk menyembuhkan diri dan normal seperti sediakala. Mudah-mudahan pertengahan tahun ini situasinya menjadi lebih baik,” ungkap Presiden FIABCI Asia-Pasifik itu.

Eman menambahkan, industri properti ini sudah teruji menjadi penggerak ekonomi bahkan di masa krisis ekonomi karena sektor ini mampu mendrive dan memiliki kekuatan untuk memacu sektor lainnya termasuk pariwisata. Selain membuka banyak lapangan pekerjaan.

Oleh karena itu, sektor properti perlu didorong untuk mempercepat akselerasi pemulihannya, tidak hanya dari sisi market (end-user) tetapi juga dari sisi suplainya yakni pengembang. Bagi masyarakat, sudah pasti banyak yang “terluka” dalam arti income-nya menjadi terbatas karena gaji dipotong dan sebagainya.

Konsumen di sektor industri dan jasa misalnya, ungkap Eman, terkena dampak serius sehingga niat membeli properti harus ditahan dulu. Karena itulah, animo konsumen perlu kembali dibangkitkan termasuk dengan stimulus diskon pajak yang sudah diberikan pemerintah. Langkah itu diakuinya sangat efektif dan pengembang harus memberikan apresiasi penuh terhadap kebijakan ini.

“Namun jangan dilupakan juga bahwa pengembang juga banyak yang harus ‘terluka’ sehingga perlu dideteksi dan didiagnosa sakitnya agar bisa kembali sama-sama bertumbuh. Yang mengalami masalah keuangan misalnya, sangat perlu dibantu dan direlaksasi,” tegas Eman.

Upaya memulihkan dan membangkitkan kembali industri properti itu, ungkapnya, harus diusahakan bersama antara pemerintah, perbankan dan swasta. Sementara konsumen juga harus diedukasi terus bahwa saat ini adalah momentum tepat untuk investasi di properti, karena harga properti relatif lebih rendah, perbankan juga memberikan bunga kredit rendah dan tenor yang lebih panjang.

CEO PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) John Riady berpendapat senada. Menurutnya, industri properti telah menunjukkan kondisi semakin membaik dengan dukungan kebijakan pemerintah dan minat beli masyarakat yang terus meningkat.

Kebijakan pembebasan dan diskon PPN misalnya tidak hanya berhasil mendongkrak kenaikan penjualan hunian rumah tapak, namun juga berdampak sangat positif terhadap hunian komersial. Sekarang, jelas John Riady, adalah saat yang tepat untuk berinvestasi dan membeli rumah.

“Tapi kami melihat bahwa sasaran kini tak hanya pada produk residensial, namun juga produk komersial karena pandemi justru melahirkan tren baru selain WFH (work from home) yaitu munculnya peluang usaha dan bisnis baru yang semakin berkembang sehingga permintaan pasar terhadap produk komersial mengalami peningkatan,” ujarnya.

Di kuartal II-2022, LPKR sudah mempersiapkan proyek rumah komersial dengan konsep baru. Desain proyek properti komersial tersebut tidak hanya sebagai tempat tinggal tetapi sekaligus tempat usaha sehingga dapat memberikan peningkatan nilai investasi kedepannya.

Manfaatkan Momentum
Senior Associate Director Research Colliers Indonesia Ferry Salanto juga melihat bisnis sektor properti pada tahun 2022 bakal pulih. Sehingga dapat menjadi pilihan investasi terbaik pada tahun ini. Indikator sektor properti yang mulai membaik terlihat dari pergerakan ekonomi makro pada akhir tahun 2021.

“Dampak dari insentif PPN pun sangat terasa bagi sektor residensial rumah tapak karena kebutuhan rumah tapak masih sangat besar,” ujar Ferry.

Sementara itu, Rudy Harsono, Vice President Consumer Loan Bank BCA mengatakan selain konsumen, pengusaha juga jangan sampai melewatkan momentum yang baik saat ini.

“Pemerintah saat ini sudah melonggarkan aturan perjalanan, endemi sudah di depan mata, sekarang tinggal bagaimana pengembang menangkap momentum tersebut,” kata Rudy dalam Talkshow “Lompatan Ekonomi Menuju Era Endemi”.

Namun dia pun mengingatkan pelaku usaha properti untuk mewaspadai situasi makro ekonomi. Rudy menjelaskan masalah perang Rusia-Ukraina, The Fed yang menaikkan suku bunga, serta inflasi menjadi hal yang harus tetap diperhatikan sebelum memutuskan investasi. (Rinaldi/Teti)


Sumber: