AKTUAL

Devisa Sektor Pariwisata Diproyeksi Tembus US$ 18 Miliar

Administrator | Senin, 09 September 2019 - 14:11:51 WIB | dibaca: 111 pembaca

Foto: Istimewa

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya memproyeksikan devisa pariwisata indonesia tahun ini akan menembus kisaran US$ 17,6 hingga US$ 18 miliar atau jauh melampaui CPO yang selama ini menjadi penghasil devisa terbesar. Dengan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) hingga 2019 diperkirakan mencapai 18 juta wisman.

Dia menjelaskan angka proyeksi 18 juta wisman tersebut, meskipun masih di bawah target yang ditetapkan sebesar 20 juta wisman, namun telah menunjukkan pertumbuhan pariwisata Indonesia selama lima tahun ini sudah mencapai dua kali lipat atau rata-rata di atas 20 persen per tahun.

“Ketika pertama kali saya menjabat menteri pariwisata pada 2015, kunjungan wisman ketika itu sebesar 9 juta, kemudian dalam perjalanan lima tahun melonjak hingga 18 juta atau tumbuh dua kali lipat,” kata Arief Yahya di Jakarta, baru-baru ini.

Tahun lalu, kata Arief Yahya, ketika devisa pariwisata mencapai US$ 16,1 miliar dari kunjungan sebanyak 16,4 juta wisman, posisi devisi dari pariwisata sudah menyamai CPO. Sedangkan devisa dari batubara stabil berada di posisi ketiga.

“Kalau dahulu di era 1980-an ketika migas berjaya kita menyebut dua sumber terbesar devisa yaitu migas dan nonmigas, sekarang kita ubah sumber devisa pariwisata dan nonpariwisata,” kata dia.

Empat Program Realistis
Menpar menyebutkan kementerian bersama stakeholder pariwisata akan menjalankan empat program realistis untuk mencapai target 18 juta kunjungan wisman tersebut yakni border tourism, hot deal, tourism hub, dan LCC Terminal.

“Dari program border tourism kita proyeksikan akan mendapat 3,4 juta wisman. Bila tahun lalu sebesar 18 persen, diproyeksikan naik menjadi 20 persen dari target wisman tahun ini,” kata Arief Yahya.

Dia memberikan perbandingan (bencmark) Malaysia yang mampu menjaring wisman dari border tourism sebesar 60-70 persen. Sedangkan Prancis dan Spanyol di atas 80 persen karena secara natural wisman Eropa yang berkunjung ke negeri itu adalah wisatawan overland.

Sementara itu untuk program hot deal (diskon besar-besaran kunjungan wisman di saat low seasons) tahun ini, menurut Arief Yahya, diharapkan menghasilkan 2 juta hingga 2,5 juta wisman.

“Program hot deal tahun lalu mampu menjual 700.000 pax. Terbesar dari Kepri mencapai 20 persen,” kata Arief Yahya.

Sementara itu program tourism hub dilakukan melalui Singapura dan Kuala Lumpur Malaysia. Program ini sebagai solusi terhadap ‘direct flight’ yang sulit dilakukan dan membutuhkan waktu relatif lama.

Sebagai contoh untuk menarik kunjungan wisman dari pasar India yang tahun lalu memberikan kontribusi sekitar 600 ribu wisman, dengan “direct flight” dari Mumbai, India, ke Bali hanya melayani 3 kali perminggu. Sedangkan penerbangan dari India ke Singapura atau Kuala Lumpur Malaysia sebanyak 70 kali per minggu.

“Kita akan fokus menggarap program tourism hub dari Singapura dan Kuala Lumpur,” kata Arief Yahya.

Menpar menambahkan program yang menentukan dalam mencapai target wisman tahun ini adalah Low Cost Carrier Terminal (LCCT).

Kemenpar mencatat kunjungan wisman tahun 2017 lebih dari 55 persen menggunakan Full Service Carrier (FSC) sisanya menggunakan Low Cost Carrier (LCC). Namun, ternyata pertumbuhan FSC rata-rata hanya 12 persen di bawah LCC yang tumbuh rata-rata 21 persen.

Koneksi Infrastruktur dan Pariwisata Presiden Joko Widodo meminta proyek infrastruktur disambungkan dengan kawasan wisata di setiap daerah agar sektor pariwisata bisa semakin mendorong kesejahteraan masyarakat secara lebih merata. Hal itu disampaikan saat pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) Tahun 2019 di Hotel Shangri-La, Kamis (9/5/2019).

“Segera provinsi, kabupaten, kota menyambungkan titik-titik di tempat masing-masing. Tanpa itu, tidak ada daerah bisa menikmati pertumbuhan ekonomi. Sambungkan dengan kawasan industri, wisata, dengan sentra industri kecil, dengan pusat produksi baik pertanian atau perkebunan,” instruksi Presiden Jokowi.

Ditambahkan, koneksi antar pusat pertumbuhan ekonomi dengan kawasan wisata akan membuat daerah menjadi lebih cepat berkembang.

Menpar Arief Yahya mengatakan prinsip dasar pariwisata memerlukan dukungan sektor lain untuk berkembang, maka dukungan infrastruktur seperti yang diinstruksikan Presiden Jokowi memang sudah keharusan.

REI Dukung Pariwisata
Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) menegaskan komitmen asosiasi perusahaan properti tertua dan paling berpengalaman itu dalam mendukung program-program strategis nasional termasuk di bidang pariwisata yang sudah ditetapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi salah satu dari lima sektor prioritas pembangunan nasional hingga 2019.

Menurut Ketua Umum DPP REI Soelaeman Soemawinata, REI selalu siap mendukung seluruh program pemerintah, tidak hanya di bidang perumahan rakyat, namun juga sektor-sektor lain seperti pengembangan kota baru, kawasan ekonomi khusus termasuk kawasan pariwisata.

Sebab pengembang yang tergabung di dalam REI tidak hanya perumahan, namun ada pula non-perumahan. Perumahan, setidaknya terbagi menjadi empat jenis, horizontal subsidi dan non-subsidi, serta vertikal subsidi dan non-subsidi.

Sedangkan untuk pembangunan non-perumahan REI membangun dan menciptakan kota baru, kawasan pariwisata, kawasan industri, pusat perbelanjaan atau mall, hotel, dan juga perkantoran.

“Saat ini anggota REI di seluruh Indonesia mencapai lebih dari 5.000 perusahaan properti yang bergerak di multiproduk termasuk yang mempunyai kompetensi di properti penunjang pariwisata seperti hotel, resort maupun sarana rekreasi (theme park) di berbagai lokasi. Kami siap berkontribusi, karena disinilah kompetensi REI,” ujar dia. (Rinaldi)