ASPIRASI DAERAH

Daya Beli Turun, Pengembang Riau Tahan Ekspansi

Administrator | Senin, 15 Februari 2021 - 16:16:11 WIB | dibaca: 33 pembaca

Hingga akhir kuartal III-2020, daya beli masyarakat di Riau diperkirakan sudah turun antara 31% hingga 50%. Kondisi itu terjadi akibat sulitnya ekonomi terutama dampak penyebaran pandemi yang menganggu aktivitas masyarakat.

Masyarakat sekarang lebih banyak memilih untuk mengurangi pengeluaran dan hanya menggunakan uang untuk keperluan yang lebih mendesak terutama pangan.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Dewan Pengurus Daerah Realestat Indonesia (DPD REI) Riau, Nursyafri Tanjung yang dihubungi Majalah RealEstat, baru-baru ini.

Dia menambahkan, dengan situasi itu pengembang di Riau pun menahan untuk ekspansi dan hanya membangunkan rumah bagi calon konsumen yang sudah disetujui bank. Menurut Nursyafri, saat in pengembang di Riau hanya mengandalkan pembeli atau konsumen dari kalangan ASN. TNI/Polri dan tenaga medis. Sedangkan sektor informal masih kesulitan untuk mendapatkan persetujuan KPR.

Pengembang juga masih menahan diri untuk membeli lahan. Nusyafri menjelaskan lebih baik untuk tidak belanja yang tidak mendesak saat ini, apalagi menjual lahan masih cukup sulit dalam beberapa tahun belakangan ini.

“Kondisi tersebut sangat menganggu cashflow pengembang, sehingga ada 30% dari total 176 pengembang anggota REI Riau yang ikut restrukturisasi dari OJK,” papar dia.

Kesulitan penjualan diakui Nursyafri sudah terjadi sejak April 2020, apalagi masyarakat belum terbiasa membeli rumah secara online. Menurut dia, tidak seperti di kota-kota besar yang sudah lebih terbiasa dengan budaya secara online, masyarakat Riau cukup resisten apalagi banyak yang kerap tertipu dengan pembelian online.

“Di sini orang ingin lihat wujud rumahnya, ditambah kerap ada oknum penipu sehingga masyakarat cukup takut untuk belanja secara online, apalagi untuk membeli rumah kalau tidak melihat langsung fisiknya,” jelas Nursyafri.

Kondisi di segmen rumah komersial justru lebih parah lagi. Dikatakan dalam sebulan hanya bisa merealisasikan satu hingga tiga rumah dengan harga Rp300 juta hingga Rp1 miliar. Menurut Nursyafri, hanya tenaga marketing yang sangat piawai yang saat ini bisa berhasil melakukan transaksi.

Dampak Infrastruktur
Tahun depan, Nursyafri masih pesimistis dengan situasi pasar properti, meski belum bisa menyebutkan berapa target pembangunan rumah di Riau pada tahun depan. Dia mengatakan REI Riau akan segera melakukan konsolidasi dan evaluasi terhadap realisasi pada tahun ini.

“Pandemi ini menyerang seluruh dunia, ditambah lagi Indonesia cukup lama recovery, sehingga kami belum bisa memberikan outlook tahun depan. Kami masih ingin melihat bagaimana bisnis berjalan dalam tiga bulan terakhir ini, sebelum memutuskan target tahun depan,” ungkap dia.

Sementara itu, dampak pembangunan infrastruktur seperti jalan tol juga belum terasa bagi perekonomian di daerah tersebut. Seperti diketahui pada akhir September lalu, tol Pekanbaru-Dumai yang masuk dalam ruas tol Trans-Sumatera resmi beroperasi. Penyebabnya tentu saja akibat merebaknya pandemi.

“Dampak beroperasinya tol belum terasa dan mungkin belum akan terasa hingga beberapa tahun ke depan, terutama tahun ini. Apalagi tahun ini saja Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Riau dipangkas dan dialihkan ke sektor kesehatan. Padahal semula dana APBD akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur,” kata Nursyafri. (Teti Purwanti)
 
Sumber: