Internasional

Bunga KPR Naik, Sektor Properti di Dua Negara Pasifik Ini Terdampak

Administrator | Kamis, 17 November 2022 - 14:10:30 WIB | dibaca: 27 pembaca

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Kenaikan suku bunga kredit mulai melanda banyak negara dan mulai menghantui sektor properti dunia termasuk di dua negara di kawasan pasifik yakni australia dan selandia baru.

Dua bank penyalur kredit pemilikan rumah (KPR) terbesar di Australia sudah bergerak menaikan suku bunga se-hingga membawa tekanan lebih besar terhadap sektor properti di Negeri Kangguru. 

Seperti dikutip dari Reuters, salah satu bank KPR terbesar di Australia Commonwealth Bank of Australia telah menaikan bunga hingga 1,4%. Hal ini tentu tidak terduga, mengingat saat Covid-19 banyak negara yang menahan suku bunga acuan dan banyak yang berharap kebijakan itu berlangsung lama.
 
Banyak pengamat di Australia menyebutkan bunga dan harga properti di Australia akan terus naik hingga 2024. Harga properti Australia melonjak seperempat pada tahun 2021 saja. Tetapi inflasi yang melonjak mendorong bank untuk mengubah perkiraan itu. 

Komisaris dan CEO Crown Group, Iwan Sunito, memprediksi akan ada kenaikan harga apartemen karena kenaikan suku bunga kredit bank. Situasi ini membuat konsumen harus bersiap dengan kenaikan harga yang akan mencapai double digit khu-susnya untuk proyek pembangunan apartemen baru pada tahun-tahun mendatang. 

“Di sisi lain hal ini akan membuat kalangan investor kembali masuk ke pasar karena harga sewa unit apartemen yang akan meningkat dan mengimbangi kenaikan suku bunga. Dampak lain, ketersediaan unit apartemen off the plan dan apartemen yang telah selesai dibangun akan terus berkurang,” paparnya. 

Iwan menyebutkan situasi ini menjadi saat yang baik bagi investor dari luar negeri khususnya China dan Indonesia untuk mendapatkan unit properti dengan harga yang masih terjangkau di Australia. 

“Ini timing terbaik untuk melakukan pembelian pasca pandemi. Pasar properti di Sydney tidak pernah berhenti bergerak maju dan akan tetap diminati investor dari luar negeri khususnya Indonesia yang merupakan komunitas investor terbesar kedua di Australia,” jelas pengusaha properti Australia kelahiran Indonesia itu.

Pasokan Rendah 
Di Selandia Baru, bunga yang terus naik membuat penjualan dan harga rumah turun karena sangat sulit untuk mengajukan kredit. 
Menurut data Institut Real Estat Selandia Baru (REINZ) jumlah penjualan properti resi-densial turun 28,4% menjadi 5.556 unit di Mei dibandingkan 7.758 unit di Mei 2021. 

Selandia Baru mengalami penurunan paling tajam dalam tingkat hipotek sejak krisis keuangan global dan kenaikan populasi tercepat. Tetapi jumlah tempat tinggal per penduduk tetap rendah di Selandia Baru dan di bawah rata-rata. 

Para peneliti mengatakan, tingkat kons-truksi telah meningkat sejak awal 2010-an, namun laju peningkatannya tidak sebanding dengan pertumbuhan penduduk. 
 
Biaya konstruksi tinggi menurut standar internasional. Sementara jumlah tempat ting-gal per 1.000 orang turun dari 394 pada 2010 menjadi 387 pada 2018. 

“Pembangunan perumahan di Selandia Baru telah berkembang pesat setelah krisis keuangan global, namun populasi penduduk juga tumbuh pada tingkat yang meningkat, sekali lagi hampir yang tertinggi dalam sam-pel kami,” ungkap Reserve Bank.
 
Ketidaksesuaian ini telah membatasi ketersediaan tempat tinggal. Jumlah tempat tinggal yang tersedia per penduduk terus menurun selama periode 2010-2020, dan merupakan yang terendah di antara semua ekonomi yang kami pertimbangkan. 

Pasokan perumahan yang relatif lemah di Selandia Baru disertai dengan inflasi biaya konstruksi yang tinggi menurut standar in-ternasional. 

Padahal di sisi permintaan, pasar peruma-han Selandia Baru didukung pertumbuhan populasi yang kuat, dan tingkat hipotek yang mengalami penurunan pasca-GFC terkuat. Singkatnya, kombinasi faktor sisi permintaan yang relatif lebih kuat dan faktor sisi pena-waran yang relatif terbatas mendorong inflasi harga rumah Selandia Baru ke ujung atas spektrum lintas negara. 

Kepala Ekonom Kiwibank Jarrod Kerr mengatakan pesan yang jelas dari catatan itu adalah bahwa ada kekurangan perumahan yang kronis dan masalah seputar pasokan. Pemotongan suku bunga telah menjadi “per-cepatan nyata” untuk harga. 

Dia mengatakan tingkat saat ini di mana izin bangunan sedang dikeluarkan adalah alasan untuk optimisme, terutama ketika da-tang dengan penurunan migrasi. 
“Ini perlahan-lahan akan menyeimbang-kan kembali pasar perumahan,” Jarrod Kerr. 

Namun diakui hal itu akan membutuhkan waktu untuk membuat dampak pada situasi yang telah berkembang selama beberapa dekade. (Teti Purwanti)


Sumber: