TOPIK UTAMA

Badan Diklat, Lokomotif Tangguh DPP REI

Administrator | Kamis, 27 Februari 2020 - 10:24:30 WIB | dibaca: 168 pembaca

Pendidikan dan pelatihan (Diklat) menjadi salah satu program unggulan kepengurusan DPP Realestat Indonesia (REI) periode 2016-2019 di bawah kepemimpinan Soelaeman Soemawinata. Sejak awal kepengurusan program diklat ini mendapat perhatian utama sebagai 7 pilar kerja sehingga dibentuklah Badan Diklat DPP REI.

DPP REI sangat menyadari bahwa hampir sekitar 75% pengembang anggotanya bergerak dalam pengembangan rumah sederhana atau rumah bersubsidi. Selain menghadapi keterbatasan modal kerja, tidak jarang pengembang di segmen ini mengalami keterbatasan pengetahuan di bidang properti. Oleh karena itu, diklat dibutuhkan untuk meningkatkan pengetahuan sehingga mampu menjadi pengembang yang tangguh.

“REI dibawah kepemimpinan Pak Soelaeman dan Sekjen Pak Totok sejak awal berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas dan kompetensi anggota REI di seluruh Indonesia. Badan diklat dibentuk dan menjadi otoritas pelaksana yang menyusun silabus pendidikan, sekaligus penyelenggara diklat di seluruh daerah,” ungkap Kepala Badan Diklat DPP REI, MR Priyanto kepada Majalah RealEstat, baru-baru ini.

Berdasarkan data Badan Diklat DPP REI, dalam tiga tahun terakhir diklat sudah diikuti oleh lebih dari 2.000 anggota REI di seluruh Indonesia, tepatnya 2.318 anggota. Kegiatan yang rutin dilakukan secara bergiliran itu hingga Oktober 2019 sudah digelar di hampir semua daerah kecuali Papua dan Papua Barat.

Diklat di kedua daerah itu terkendala faktor transportasi karena pengembang di daerah-daerah di kedua provinsi tersebut sulit menjangkau lokasi diklat. Selain biaya transportasi yang mahal.

Situasi yang sama terjadi pula di Maluku dan Maluku Utara, selain karena alasan anggota REI yang masih minim di kedua daerah tersebut. Menurut Priyanto, pihaknya sudah mendorong diklat gabungan bagi keempat daerah tersebut sehingga lebih efisien.

“Dari beberapa kali penyelenggaraan, kami melihat komentar dan testimoni dari peserta yang menyatakan mereka mendapat manfaat besar dari diklat ini dan bisa melihat industri properti khususnya perumahan secara lebih luas. Pasca diklat, banyak peserta yang tetap berkomunikasi dengan tim pengajar untuk tindaklanjut usahanya,” kata Priyanto yang juga Ketua DPD REI Jawa Tengah itu.

Materi diklat yang diberikan berbasis kompetensi. Artinya materi yang diberikan kepada anggota ini merupakan pengetahuan yang bisa digunakan untuk uji kompetensi di bidang real estat, khususnya yang berbasis kompetensi pembangunan perumahan layak huni.

DPP REI sudah membentuk Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang sudah mengantongi izin dari pemerintah, dan dalam waktu dekat diharapkan segera dapat melakukan uji kompetensi bagi pelaku industri real estat bekerjasama dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Menurut Priyanto, materi-materi yang disampaikan selama diklat menyentuh seluruh bagian pembangunan perumahan dari mulai aspek perencanaan, pelaksanaan, pengelolaan (pembangunan) hingga pemanfaatan dan pengendalian dari kawasan perumahan yang sudah dibangun.

Peserta juga mendapatkan materi menilai kelayakan lokasi, melakukan verifikasi legalitas tanah, wawasan tentang rencana tata ruang, pengurusan perizinan dan survei tanah yang berkaitan dengan sumber air bersih, ketersediaan jaringan listrik hingga akses transportasi.

Dari sisi pengelolaan cashflow diberikan ilmu untuk menilai kelayakan investasi, perhitungan biaya pembebasan lahan, perhitungan harga pokok produksi (HPP) tanah maupun HPP rumah hingga strategi-strategi penjualan.

“Kemudian setelah bangunan selesai dijual ada pengendalian, yakni pengetahuan tentang manajemen estat supaya lingkungan perumahan tetap terjaga baik, bagaimana pengelolaan kawasan hingga prosedur serahterima fasilitas fasos dan fasum kepada pemerintah daerah. Jadi materinya meliputi dari hulu ke hilir dalam bisnis properti,” papar Priyanto.

Selain diklat yang berbasis pembangunan perumahan layak huni sebagai dasar uji kompetensi ke depan, materi diklat saat ini juga sudah meluas hingga topik mengenai pembangunan apartemen dan berikutnya menyentuh materi pembangunan trade center, kawasan industri, kawasan pariwisata dan subsektor properti lain yang disesuaikan dengan kebutuhan anggota.

Sementara pemateri dalam diklat REI, berasal dari berbagai institusi, namun yang utama adalah pengajar dari internal REI yakni para praktisi di bidangnya masing-masing. Selain itu ada pula pengajar dari akademisi, perbankan khususnya Bank BTN dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Terorganisir Baik
Ketua Umum DPP REI Soelaeman Soemawinata mengungkapkan badan diklat menjadi salah satu program kerja unggulan REI dalam tiga tahun terakhir ini yang membawa manfaat langsung bagi anggota. Kenapa DPP REI memberi perhatian besar terhadap program tersebut?

Menurut Eman, demikian dia akrab dipanggil, badan diklat ini ibarat sebuah Departemen HRD di perusahaan, yang menjadi nyawa bagi perusahaan karena disitulah sumber daya manusia ditempa sehingga mampu menggerakkan organisasi perusahaan.

Oleh karena itu, untuk dapat membangun anggota yang kuat, maka kompetensinya harus unggul. Untuk bisa membangun kompetensi yang unggul, kata Eman, maka perlu ada peningkatan kemampuan anggota secara substansial di bidang real estate development.

Seperti diketahui subsektor keahlian di REI banyak sekali, ada anggota yang mengembangkan kawasan besar, kota baru, kawasan pariwisata, industri, komersial, perumahan, high rise building, pergudangan, kawasan industri, hotel, perkantoran dan lain-lain. Banyak sekali keahlian yang mempunyai karakteristik sendiri di bidang manajemen, pemasaran, sistem keuangan, teknis konstruksi dan sebagainya.

“Ke depan REI akan siapkan perangkat sistem diklatnya dapat menyentuh semua sektor,” kata Eman.

Dia menambahkan, Badan Diklat DPP REI dibentuk dengan tugas pokok menyusun materi diklat, menyiapkan tim pengajar dan mengkoordinasikan penyelenggaraan diklat di daerah.

Saat ini, diakui Eman, permintaan dari daerah untuk melaksanakan diklat cukup luar biasa yang menunjukkan bahwa anggota REI di daerah memang membutuhkan program tersebut. Dengan menggalakkan kembali diklat menunjukkan REI memberikan perhatian besar terhadap sumber daya manusia yang menjalankan bisnis properti.

“Yang penting lagi bahwa dalam tiga tahun terakhir ini, diklat REI mendapat support penuh dari Kementerian PUPR dan Bank BTN. Bahkan BTN memberikan dukungan untuk kedatangan tim pengajar dari Jakarta ke lokasi diklat, sehingga tidak membebani DPD REI di daerah,” ujar Eman.

Nantinya, sambung dia, pengembang yang sudah mengikuti diklat akan disertifikasi oleh REI sendiri karena asosiasi ini telah memiliki Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) di bidang properti yang secara negara sudah disahkan untuk melakukan sertifikasi.

Oleh karena itu, Eman berharap keberadaan Badan Diklat DPP REI dapat dilanjutkan, bahkan ditingkatkan lagi frekuensi dan materi pelatihannya. (Rinaldi)