TOPIK UTAMA

Akibat Covid, Pengembang Daerah Terjepit

Administrator | Senin, 12 Oktober 2020 - 09:32:23 WIB | dibaca: 28 pembaca

Foto: Istimewa

Secara nasional, bisnis properti mengalami keterpurukan sejak wabah corona atau covid-19 masuk ke indonesia. Pandemi ini telah menyebabkan penurunan secara signifikan omset dan volume penjualan produk properti di semua daerah. Alhasil, kemampuan membayar pengembang terhadap kewajiban utang bank pun semakin melemah.

Ketua DPD REI DKI Jakarta, Arvin F. Iskandar mengatakan akibat pandemi Covid-19, kondisi pengembang semakin melemah akibat penurunan aktivitas ekonomi. Tingkat penjualan drop, sementara biaya yang harus dikeluarkan tetap. Jika hal ini dibiarkan sangat dikhawatirkan akan terjadi peningkatan kredit macet atau non performing loan (NPL).

“Kami meminta otoritas berwenang memberikan stimulus. Beri kami ruang gerak dulu, sambil menunggu redanya virus ini,” kata Arvin dalam siaran persnya, baru-baru ini.

Menurut dia, hampir semua proyek properti di DKI Jakarta ikut terpengaruh proses pembangunannya terutama yang menggunakan material atau bahan baku yang berasal dari negara-negara terdampak virus corona. Pengembang kesulitan mendatangkan material dan bahan baku. Di sisi lain, biaya operasional dan bunga pinjaman tetap harus dibayarkan.

Bisnis properti di Bali juga mengalami tekanan hebat akibat pandemi Covid-19. REI Bali bahkan memproyeksikan penurunan penjualan properti di Bali mencapai 90 persen.

Ketua DPD REI Bali, Pande Agus Permana Widura menyebutkan saat ini bisnis properti merasakan penurunan yang sangat signifikan sebagai imbas dari terpukulnya sektor pariwisata akibat penyebaran Covid-19. Seperti diketahui, mayoritas warga Bali sangat tergantung kepada geliat bisnis pariwisata.

“Saat ini banyak anggota REI Bali yang sudah menghentikan pembangunan, atau melakukan efisiensi anggaran supaya cashflow tetap terjaga,” ujar dia.

Pengembang di Daerah Istimewa Yogyakarya (DIY) juga mengeluhkan permintaan dan penjualan properti yang turun sejak dua bulan terakhir pasca merebaknya pandemi tersebut.

“Tren (penjualan) memang menurun karena pengaruh ekonomi makro, ditambah lagi dengan adanya corona ini,” kata Ketua DPD REI DIY Rama Adyaksa Pradipta, baru-baru ini.

Padahal, menurut dia, jika melihat tahun lalu, tren properti menjelang masuk Ramadan atau Lebaran ada peningkatan.

Ketua DPD REI Banten, Roni H. Adali juga melaporkan dampak serius dari Covid-19 terhadap penjualan properti di provinsi para jawara tersebut.

“Semua sektor kini sudah terdampak, dan untuk properti terutama segmen masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sudah turun 50 persen dibandingkan tahun lalu. Kalau segmen komersial ya kondisi lebih parah lagi,” ujar Roni, baru-baru ini.

Ditambahkan, saat ini daya beli masyarakat di segmen bawah akan semakin sulit, dimana sebagian besar karyawan dan pekerja di Banten justru menghadapi ancaman PHK, bahkan sudah banyak yang sudah di-PHK.

Beberapa langkah sedang diupayakan REI Banten sehingga pasokan rumah subsidi di tahun ini dapat terserap, antara lain dengan mencoba menggandeng PNS dan TNI/Polri yang tidak terlalu terdampak akibat Covid-19 serta perusahaan-perusahaan besar sebagai target pasar.