PEMBIAYAAN

Adu Strategi Perbankan Dongkrak Penyaluran KPR

Administrator | Rabu, 18 Maret 2020 - 09:44:24 WIB | dibaca: 53 pembaca

Foto: Istimewa

Perlambatan ekonomi turut menekan minat dan daya beli masyarakat untuk membeli properti. Imbasnya kinerja penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) atau kredit pemilikan apartemen (KPA) juga mengalami koreksi tajam. Tak heran jika kini sejumlah perbankan saling adu strategi untuk menarik minat konsumen membeli properti dengan kredit bank.

Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh 5 persen pada 2019. Proyeksi itu turun dari sebelumnya yang sebesar 5,1 persen. Sementara itu, sekitar dua bulan sebelum rilis Bank Dunia tersebut, Bank Indonesia (BI) sudah melihat penurunan minat pembelian rumah dalam periode September 2019-Agustus 2020.

Berdasarkan Survei Konsumen BI yang dirilis pada September 2019 itu, responden yang berencana menempatkan pendapatannya dalam bentuk properti menurun dari 23 persen bulan sebelumnya menjadi 22,2 persen. Adapun responden yang masuk kategori mungkin dan sangat mungkin membeli rumah turun dari 36,3 persen menjadi 34,6 persen.

Potensi penurunan daya beli masyarakat akibat pelambatan ekonomi itu sejalan dengan penurunan minat membeli rumah. Hal itu membuat pembelian rumah bisa semakin tergerus di akhir tahun ini atau triwulan IV-2019.

Lesunya daya beli rumah membuat kinerja KPR perbankan ikut terdampak. Salah satunya PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk yang tahun ini, per September 2019, baru tumbuh 16,5 persen secara tahunan. Pertumbuhan itu melambat dari tahun lalu yang melampaui 20 persen secara tahunan.

Direktur Konsumer BTN Budi Satria mengatakan, BTN mengantisipasi turunnya pengajuan KPR dengan fokus pada penjualan rumah yang cenderung murah. BTN bekerja sama dengan pengembang yang bisa membuat rumah dengan harga terjangkau.

”Permintaan KPR saat ini dominan di kisaran harga sampai dengan Rp500 juta. Kami saat ini terus mendorong kolaborasi dengan pengembang untuk membuat bundling program penjualan KPR,” kata Budi.

Sementara itu, Bank Mandiri melalui SVP Consumer Loan Bank Mandiri Ignatius Susatyo Wijoyo mengakui memang selama 5 tahun terakhir pasar properti mengalami penurunan, terutama pembelian dari investor. Alasannya, Ignatius menyebutkan harga properti tidak mengalami kenaikan.

“Jadi orang dulu kalau beli properti kan untuk tujuan investasi, tapi harga rumah 5 tahun terakhir enggak naik, terutama rumah yang di atas Rp2 miliar, harga yang second juga flat, jadi orang yang punya duit udah malas investasi di properti,” ungkap Ignatius.

Namun, dia menyatakan kebutuhan rumah bagi end user mau tidak mau akan tetap ada, dengan mayoritas pembeli mencari dengan harga di bawah Rp1 miliar. Menurutnya, tahun depan dengan LTV yang mulai berlaku dan mulai memberikan dampak pada awal tahun bisa memberikan dorongan pada pasar properti dan transaksi Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Bank Mandiri, hingga September 2019 sudah menyalurkan KPR sebanyak Rp43,4 triliun dari target tahun ini sebanyak Rp45 triliun. Adapun, pada 2020, Ignatius menargetkan penyaluran KPR kepada milenial hingga Rp500 miliar atau dua kali lipat dari capaian setahun belakangan.

Dibantu Relaksasi
Sedangkan PT Bank CIMB Niaga Tbk, per September 2019, masih mencatatkan pertumbuhan kinerja KPR sekitar 13 persen secara tahunan. Meski begitu, pada akhir tahun, kinerja tersebut diperkirakan akan menurun hingga 10-12 persen secara tahunan.

Direktur Konsumer CIMB Niaga Lani Darmawan menjelaskan, sejauh ini kinerja KPR masih sesuai target. Kebijakan BI yang melonggarkan rasio pinjaman terhadap aset (LTV) sebesar 5 persen untuk KPR memberikan pengaruh positif. ”Sejauh ini relaksasi BI membantu. Namun, kebijakan itu harus disesuaikan per nasabah karena bisa berbeda pendekatan, tergantung analisis kreditnya,” ujarnya.

Menurut Lani, kebutuhan membeli rumah selalu ada. CIMB Niaga hanya perlu menyesuaikan dengan kebutuhan. Oleh karena itu, bank swasta tersebut menyediakan program KPR yang bervariasi, mulai dari rumah baru dengan pengembang hingga rumah bekas.

CIMB Niaga berupaya terus menjaga agar nasabahnya tidak melunasi di awal. Mereka mencegah hal tersebut dengan memberikan denda kepada debitor yang melunasi di awal.

PT Bank Central Asia Tbk hanya menargetkan pertumbuhan KPR sekitar 8 persen pada akhir tahun meski pertumbuhan secara tahunan pada semester I-2019 mencapai 11,2 persen. Target tahun ini jauh lebih rendah dibandingkan pencapaian pada 2018 yang tumbuh 12 persen secara tahunan.

Executive Vice President Divisi Bisnis Kredit Konsumer BCA Felicia M Simon mengatakan, pertumbuhan kinerja KPR memang melambat. Hal itu disebabkan oleh semakin terbatasnya daya beli masyarakat akibat ekonomi yang lesu.

Felicia meyakini, kebutuhan akan rumah masih sangat banyak. Kendati demikian, masyarakat masih menunggu pembelian rumah karena uang muka dan angsuran yang masih cukup tinggi. Masyarakat masih menunggu pembelian rumah karena uang muka dan angsuran yang masih cukup tinggi.

BCA menyiasati menurunnya daya beli masyarakat dengan mengincar pengajuan pembelian KPR dari rumah bekas. Harga rumah bekas yang cenderung murah, sekitar Rp 250 juta, membuatnya lebih terjangkau.

”Di portofolio BCA, kontribusi rumah bekas mencapai 80 persen. Rumah bekas kan dinamis, tidak perlu menunggu developer launching. Setiap orang bisa transaksi. Pasar ini sejauh ini masih jalan dan pertumbuhannya baik,” kata Felicia.

Di sisi lain, bank BUKU IV tersebut juga berupaya memacu KPR dengan menggelar BCA Expo pada 26-27 Oktober 2019. BCA menargetkan transaksi KPR mencapai Rp 1 triliun dalam ajang dua hari itu.

”Angsuran bisa lebih rendah. Masyarakat bisa merealisasikan kebutuhannya. Ini bisa sangat menarik. Dengan beberapa event, BCA memang berupaya menjangkau nasabah dengan bunga yang lebih rendah dibandingkan hari biasa,” ucapnya.

BCA menawarkan bunga angsuran KPR yang jauh lebih rendah dalam pameran, hanya 6,75 persen, dibandingkan 8-8,5 persen saat normal. Adapun nasabah bisa mengajukan kredit rumah baru dari pengembang Sinar Mas Land ataupun rumah bekas. (Teti Purwanti)